BI Bantu Alat Keselamatan Penderes Untuk Kurangi Resiko Kecelakaan

Pemberdayaan Masyarakat

Tingginya angka kecelakaan penderes saat melakukan aktifitas memanjat pohon kelapa mendapat perhatian khusus dari Kelompok Tani Cikal Mas Desa Pageraji,Kecamatan Cilongok, Banyumas. Alat keselamatan yang telah lama digagas itu karena pekerjaan penderes sangat beresiko tinggi.

“Tahun 2013 kita pernah gagas alat bantu untuk penderes. Tapi alat tersebut dinilai merepotkan. Karena memakan waktunya terlalu banyak. Penderes itu sebenarnya cuma butuh alat keselamatan bukan alat bantu. Karena sudah mahir memanjat tidak perlu dibantu,” kata Ketua Kelompok Tani Cikalmas, Arbi Anugrah kepada wartawan saat penyerahan bantuan sosial alat keselamatan penderes oleh Bank Indonesia, Senin (26/8/209).

Dia mengaku jika tidak berjalan sendiri untuk mengembangkan alat ini, pihaknya menggandeng Banyumas Outbond Community untuk pembuatan alatnya. Karena pada dasarnya alat tersebut adalah alat yang biasa digunakan untuk panjat tebing.

“Sekarang tinggal gimana caranya agar penderes mau pakai alat itu tanpa harus dipaksa. Saat ini ada 50 alat yang dibagikan ke penderes. Semua berasal dari Program Sosial Bank Indonesia Bantuan Alat Keselamatan Penderes Kelapa,” ujarnya.

Arbi menambahkan alat tersebut nantinya akan dibagikan kepada penderes namun syaratnya harus dapat rekomendasi dari Kelompok Tani Cikalmas.

“Di Pageraji ada sekitar 900an penderes. Tapi sampai sekarang baru 70 yang sudah mendapatkan bantuan tersebut. Rencananya akan kita bagikan. Kriteria yang mendapatkan alat ini penderes yang beresiko tinggi,” ujarnya.

Dari data terakhir yang didapatnya, kasus terjadi kecelakaan penderes pada bulan Februari lalu terdapat 5 kasus kecelakaan di Desa Pageraji yang menyebabkan satu orang meninggal.

Ruswanto (41) penderes asal Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok, mengakui jika dirinya saat ini selalu mengenakan alat tersebut saat memanjat.

“Kendalanya waktu bongkar pasang pengait ke pohon. Biasanya sejam bisa 6 pohon, tapi ketika ada alat pengaman satu setengah jam,” katanya.

Sedangkan yang membuat tertarik menurut Khabib (32) penderes lainnya yaitu karena bisa untuk alat keselamatan.

“Saya sudah menderes sejak limabelas tahun terakhir sejak lulus smp. Dahulu pernah kecelakaan kepleset batang pohon kelapa hingga dada nya lecet. Jadi dengan adanya alat tersebut bisa mencegah kejadian itu terulang. Karena sehari sayq bisa memanjat sampai 80 pohon kelapa,” lanjutnya.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Purwokerto, Agus Chusaini mengungkapkan bantuan tersebut sebagai kepedulian terhadap para pelaku UKM melalui bantuan di wilayah kerja BI Purwokerto.

“Alhamdulillah tadi dicoba dan berjalan dengan baik. Perlu ada pengembangan agar alatnya saat terpelset bisa ngunci sendiri sehingga memudahkan penderes,” katanya.

Dia juga berharap kedepan makin banyak yang terlibat dalam pengembangan alat keselamatan tersebut. Perlu ada perhatian serius.

Sementara menurut Bupati Banyumas Achmad Husein yang juga turut menyaksikan proses ujicoba tersebut menjanjikan akan ada anggaran khusus untuk alat keselamatan penderes dari dana APBD.

“Kita tahun depan anggarkan 1 M untuk alat tersebut, tapi dari Pemkab sendiri juga tetap berharap ada program CSR dari perusahaan yang ada di Banyumas agar semua penderes bisa memiliki alat tersebut. Karena jumlah penderes di seluruh Kabupaten Banyumas tidak sedikit.Ada sekitar 20 ribuan, sedangkan harga satu alatnya mencapai Rp 750 ribu. Menurut saya masih terlalu mahal. Saya upayakan agar bisa di press sampe angka maksimal Rp 400 ribu,” katanya.

Ia melanjutkan, alat keselamatan untuk penderes tersebut juga masuk dalam program kerja nya hingga tahun 2023.

“Saya berharap angka kecelakaan penderes bisa terus berkurang hingga mencapai angka 0. Karena kita mencatat angka kecelakaan penderes tiap tahunnya mencapai 160 kejadian. Setengah diantaranya menyebabkan kematian,” tuturnya.